Oleh: Riska Aprilia
Pagi itu, hari Minggu. Aku melihat jam weker yang sedari tadi berisik seolah berteriak membangunkanku. Waktu menunjukkan pukul 06.00. Dengan mata yang masih terkantuk-kantuk dan perasaan sedikit jengkel, aku menekan tombol yang ada pada jam itu untuk menghentikan suara berisiknya. Suara itu lenyap, namun kini telah tergantikan oleh teriakkan ibuku dari luar kamar “Aa, Ayo bangun! Katanya mau lari pagi.” Dengan enggan aku menjawab “Iya bu.”
Ibu menyuruhku untuk mandi, aku menurutinya. Selesai mandi, langsung kupakai setelan terbaikku. Sweater abu gelap, celana jogger, dan sepatu kets berwarna senada. Tak lupa kusisir rambutku. Sepuluh menit kemudian aku sudah siap dan langsung menghampiri ibuku yang sudah menunggu di teras rumah bersama dengan Ayah, dan si Mizzy adik kecilku.
Kami mulai berangkat dengan menyusuri jalan raya sekitar rumah, udara pagi masih terasa sangat segar. Belum banyak kendaraan melintas, mungkin karena ini hari libur, atau mungkin karena hari masih pagi. Lain halnya dengan pejalan kaki, banyak pejalan kaki yang berjalan beriringan dengan kami. Dilihat dari pakaian yang mereka pakai, mereka memakai pakaian setelan yang mirip dengan kami, agaknya akan pergi jogging juga dengan tempat tujuan yang sama.
Singkat cerita sampailah kami di tempat tujuan, yaitu “Pasar Minggu Sesko AU”. Ramai sekali di sini. Tempat ini dipenuhi penjual-penjual yang menawarkan dagangan, juga orang yang membelinya. Di sisi lain tempat ini, terdapat lapangan olahraga yang memang ditujukan untuk aktivitas seperti jogging, basket, dan olahraga lainnya. Langsung saja aku menuju lapangan untuk jogging dan berlomba bersama ibuku.
Baru dua putaran aku sudah merasa capek, haus, dan keringetan. Tapi aku tidak ingin kalah, aku terus berlari hingga putaran kelima. Kulihat ke belakang, Ibu berada jauh di belakangku dan masih berlari. Ini artinya, aku menang. Aku berhasil mencapai lebih dulu garis finish yang sudah kami sepakati. “Wah, Aa hebat, bisa ngalahin Ibu” katanya dengan bangga. “Iya dong mah, artinya Aa dapat hadiah dong” Jawabku. “Iya, nanti mamah belikan ikan cupang yang kamu mau” tambahnya sambil tersenyum. “Asiiiik makasih ya bu”.
