Oleh Shabeen
“Kakak sudah siap?” Arsa bertanya menggunakan bahasa isyarat pada sang Kakak, Aska mengangguk. Keduanya pun berpamitan pada Ibu dan Ayah untuk berangkat ke sekolah. “Hati-hati ya, sayang. Arsa tolong jaga Aska dengan baik ya,” ucap Ibu pada Arsa. Arsa dan Aska mengangguk mengerti kemudian pergi setelah mengucapkan salam.
Arsa dan Aska adalah saudara kembar, Arsa merupakan pemuda yang pemberani dan bijaksana, sementara Aska memiliki pribadi yang kuat dan baik hati. Saat ini, mereka duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar. Letak sekolah mereka tidak jauh dari rumah, jadi setiap hari mereka berjalan kaki untuk pergi ke sekolah. Sesampainya di sekolah, Arsa dan Aska berjalan menuju kelas dan menyimpan tas di bangku mereka. Masih ada waktu beberapa menit sebelum bel masuk berbunyi, Arsa dan Aska memeriksa isi tas mereka untuk memastikan bahwa tidak ada buku yang tertinggal. Hingga tak lama setelahnya, bel masuk pun berbunyi. Semua siswa masuk ke dalam kelas dan duduk di bangkunya masing-masing.
Pembelajaran dimulai. Bu Arin, guru bahasa Indonesia, menyampaikan materi tentang teks eksplanasi. Semua siswa berusaha memperhatikan penjelasan Bu Arin dengan baik, termasuk Arsa dan Aska. Walaupun Aska tidak bisa mendengar, ia tetap bisa memperhatikan penjelasan guru melalui gerak bibirnya. Terkadang ia juga membaca buku pelajaran untuk mengetahui lebih jelas apa yang guru sampaikan. Jika ada yang tidak ia mengerti, maka Aska akan bertanya pada adik kembarnya, dan Arsa pun akan menjelaskannya pada Aska menggunakan bahasa isyarat.
Tak terasa waktu istirahat tiba, hampir semua siswa berhamburan ke luar untuk pergi ke kantin, begitu pula dengan Arsa dan Aska. Di kantin, mereka bertemu dengan Rio, teman sekelas mereka. “Arsa, kamu tidak lelah harus selalu menjaga kembaranmu yang tuli itu? Bukankah itu merepotkan?” Rio bertanya dengan nada meremehkan. Ini sudah yang kesekian kalinya Rio mengucapkan kata-kata yang menyakiti hati Aska, dan Arsa yang mendengarnya pun sangat tidak menyukai itu. “Tidak, aku senang melakukannya. Jadi, kamu tidak perlu berkomentar seperti itu,” jawab Arsa yakin. Ia tidak suka cara Rio memanggil Aska dengan sebutan ‘tuli’, menurut Arsa itu terdengar tidak sopan. Apalagi, Rio mengatakannya dengan nada meremehkan yang terkesan mengejek.
“Huh, kalau aku jadi kamu sih, aku biarkan saja dia. Merepotkan sekali,” ucap Rio lagi. “Ya, itu kamu, aku tidak akan seperti itu,” Arsa berkata dengan nada sedikit ketus. Aska yang sedari tadi di samping Arsa terlihat kebingungan memperhatikan keduanya yang malah adu mulut. Hingga kemudian, Aska pun menepuk pundak Arsa dan menarik tangannya untuk pergi kembali ke kelas.
“Kenapa? Apa yang terjadi?” Aska bertanya dengan bahasa isyarat. Arsa menghela napas kesal, “Rio menjelek-jelekkan kamu lagi, Kak. Aku tidak suka, jadi aku berbicara sedikit ketus padanya,” Arsa menjelaskan dengan menggerakkan kedua tangannya. Aska tersenyum tipis, “Benarkah? Ya sudah, biarkan saja. Aku tidak apa-apa,” ucapnya menenangkan. “Tapi aku tidak suka ada yang menjelek-jelekkan Kakak seperti itu,” Arsa berkata dengan raut sedih. Aska tersenyum melihat kepedulian Arsa padanya, “Sudah, tidak apa-apa. Terima kasih ya sudah sangat peduli padaku.” Arsa tersenyum membaca gerakan tangan Aska, ia mengangguk sebagai jawaban. “Ayo makan makanan kita, bel masuk akan berbunyi sebentar lagi,” ajak Arsa, Aska pun menuruti ucapan Arsa. Keduanya mulai memakan makanan mereka dengan tenang.
Setelah waktu istirahat habis, pembelajaran kembali dilanjutkan. Pembelajaran berlangsung dengan baik hingga selesai. Bel pun kembali berbunyi, menandakan sekolah hari ini telah usai. Seluruh siswa dengan riang berlari keluar kelas untuk pulang ke rumah masing-masing.
Keesokan harinya saat waktu istirahat sedang berlangsung, Aska melihat Rio yang sepertinya sedang bertengkar dengan Haris, teman sekelasnya yang lain. Mereka saling adu mulut dan tidak ingin kalah, Aska yang sedari tadi memperhatikan pun menghampiri Rio dan Haris untuk melerai mereka.
Aska berusaha untuk memberikan isyarat yang mereka pahami agar berhenti bertengkar. Haris mengerti isyarat Aska dan berniat untuk berhenti, namun Rio malah memandang Aska dengan tatapan tidak suka, “Kamu tidak usah ikut campur! Ini urusan aku dengan dia, kamu urus saja dirimu sendiri itu, dasar tuli!” Aska terdiam saat mengerti apa yang diucapkan Rio, ia merasa sedikit sedih mendengarnya. “Rio, kamu sangat keterlaluan,” Haris bersuara menyampaikan ketidaksukaannya pada Rio karena mengucapkan kalimat yang menyakitkan untuk Aska.
Di kejauhan, Arsa melihat semua yang terjadi dari mulai kembarannya itu menghampiri Rio dan Haris. Ia pun menghampiri Aska saat melihat Rio mulai berkata seenaknya pada sang kembaran. Saat tiba di hadapan mereka, Arsa berkata, “Sudah, hentikan. Kalau tidak, aku akan pergi ke ruang guru untuk melaporkanmu Rio.” Rio terdiam, raut wajahnya berubah semakin kesal, ia mengepalkan tangannya dengan kuat karena merasa kalah. Setelah mengucapkan itu, Arsa mengajak Aska untuk kembali ke kelas. Haris pun ikut kembali ke kelas bersama Arsa dan Aska.
Hari berikutnya, saat pulang sekolah. Seluruh siswa sudah keluar kelas untuk pulang, kecuali Arsa, Aska, Rio, dan beberapa siswa lain yang memiliki jadwal untuk piket kelas. Saat Aska sedang menyapu lantai, tiba-tiba ada benda keras yang mengenai bahunya. Ia pun menoleh dan melihat penghapus papan tulis yang sudah tergeletak di lantai, Rio lah yang sudah dengan sengaja melemparkan benda itu ke arah Aska.
“Kamu saja yang bersihkan, aku malas, aku mau pulang,” ucapnya dengan nada memerintah, Aska yang mengerti pun mengambil penghapus papan tulis itu kemudian ia berikan kembali pada Rio. “Jangan begitu, kamu juga harus membersihkan. Setelah selesai, baru kamu bisa pulang,” Aska berkata menggunakan bahasa isyarat, ia lupa bahwa Rio tidak mengerti bahasa isyaratnya. Ditambah lagi, Arsa sedang pergi ke toilet, jadi tidak ada yang bisa menerjemahkan apa yang Aska sampaikan.
“Kamu ini bicara apa sih? Aku tidak mengerti!” Rio berteriak marah. Aska pun tersadar, ia akhirnya mencari secarik kertas dan pena untuk menuliskan apa yang ingin ia sampaikan. Tetapi, saat Aska sedang menuliskannya, Rio sudah terlanjur kesal dan tidak ingin tahu. Rio merebut pena yang masih digunakan oleh Aska, kemudian ia melempar pena itu ke sembarang arah. Aska terkejut dan langsung menatap ke arah Rio.
“Hentikan! Kamu membuatku kesal, dasar tuli! Sudah tidak bisa dengar, tidak bisa bicara pula. Merepotkan!” Rio kembali berteriak dengan nada jengkel, Aska yang mengerti ucapan Rio seketika terdiam. Kali ini, ucapan Rio benar-benar menyakiti hatinya, ia merasa lebih sedih daripada kemarin. Rio yang melihat Aska diam saja memutuskan untuk pergi, beberapa temannya yang melihat itu pun dengan segera menghampiri Aska. Mereka menanyakan apakah Aska baik-baik saja, dan mereka juga meminta maaf karena tidak berani melawan Rio. Aska pun hanya menjawabnya dengan mengangguk dan tersenyum tipis.
Beberapa hari kemudian, salah satu teman sekelas mereka yang saat itu melihat Rio berbuat semena-mena terhadap Aska, menceritakan kejadian tersebut kepada Arsa. Saat mendengar cerita itu, Arsa seketika merasa marah. Ia pun bertanya pada Aska, “Rio berbuat seenaknya lagi padamu kan, Kak? Kenapa Kakak tidak bilang padaku?” Aska tersenyum penuh arti, “Tidak apa-apa, Arsa. Aku tidak mau kamu marah dan bertengkar dengan Rio. Lagipula, aku tidak mau memperpanjang masalah.”
Arsa menghembuskan napas pelan, “Tentu saja aku marah, aku tidak bisa diam saja mengetahui kembaranku diperlakukan seenaknya begitu.” Aska mengusap bahu Arsa, “Sudah tidak usah marah lagi, itu sudah berlalu,” ucap Aska menenangkan. Arsa terdiam membaca gerakan tangan Aska, kesabaran kakak kembarnya ini sungguh luar biasa. “Baiklah, aku tidak akan memarahinya. Tapi kamu harus janji, jika Rio berbuat seperti itu lagi, ceritakan padaku. Aku tidak mau kamu menyimpan kesedihanmu sendiri, Kak,” ucap Arsa sambil tersenyum tipis. Aska pun membalasnya dengan anggukan dan senyum manisnya.
Seminggu berlalu, kegiatan sekolah pun berjalan seperti biasanya. Pada jam istirahat kali ini, beberapa siswa laki-laki di kelas 5 sudah sepakat untuk bermain bola bersama di lapangan. Arsa, Rio dan Haris juga ikut bermain. Sementara itu, Aska memutuskan untuk menonton mereka saja dari pinggir lapangan.
Saat permainan berlangsung, salah satu siswa menendang bola terlalu kuat hingga bola tersebut melayang jauh dan keluar dari garis lapangan. Akhirnya, Rio berjalan keluar lapangan untuk mengambil bola tersebut. Namun, saat akan mengambil bolanya, Rio malah terpeleset karena menginjak sampah plastik. Ia terjatuh, salah satu kakinya masuk ke dalam selokan dan terluka. Beberapa siswa yang melihatnya seketika tertawa, mereka berpikir bahwa Rio pantas mendapatkannya karena ia nakal dan ceroboh.
Rio yang masih terduduk menundukkan kepalanya. Ia merasa malu karena jatuh di hadapan banyak orang, ia juga kesal karena mereka malah menertawakannya. Dari kejauhan Arsa hanya diam melihat kejadian itu. Sementara itu, Aska yang sedari tadi memperhatikan pun berniat untuk menolong Rio. Namun, saat akan menghampiri Rio, Arsa menahan tangan Aska. “Kakak mau kemana?” Arsa bertanya. “Kakak mau bantu Rio. Kamu kenapa diam saja? Kasihan dia jatuh,” ucap Aska dengan raut wajah khawatir.
Arsa menghela napas, ia teringat kejadian minggu lalu ketika Rio berbuat seenaknya pada Aska di saat ia tidak ada di samping sang kembaran. “Kenapa Kakak masih peduli padanya? Padahal dia saja berbuat seenaknya pada Kakak,” Arsa menyampaikan pendapatnya. Aska menggeleng tidak setuju, “Dia juga teman kita Arsa. Kita tidak boleh diam saja saat melihat teman kita kesulitan. Ayo, ikut aku bantu dia.” Arsa terdiam membaca ucapan Aska, ia menyadari bahwa tindakannya salah. Arsa dibuat kagum karena kebaikan hati kembarannya itu.
Akhirnya, Arsa pun mengikuti keinginan Aska untuk membantu Rio. Mereka mengantar Rio ke ruang UKS dan membantu petugas UKS untuk mengobati Rio. Setelah selesai, petugas UKS pun pergi. Tinggallah Arsa, Aska dan Rio di dalam ruang UKS. “Terima kasih sudah membantuku,” ucap Rio sambil menunduk, ia merasa malu sekaligus merasa bersalah. Aska menepuk pundak Arsa, “Rio mengatakan sesuatu?” tanyanya. Arsa mengangguk kemudian menjelaskan pada Aska, “Rio berterima kasih karena kita sudah membantunya. Sepertinya dia juga merasa bersalah padamu, Kak.”
Benar saja, setelah Arsa mengucapkan itu pada Aska, Rio memberanikan diri untuk menunjukkan wajahnya dan mulai menyampaikan rasa bersalahnya. “Padahal selama ini aku sudah keterlaluan pada kalian, terutama padamu Aska. Aku menyesal, aku minta maaf, maafkan aku…” ucap Rio dengan raut wajah penuh penyesalan. Arsa dan Aska memandang satu sama lain kemudian tersenyum. “Tidak apa-apa Rio, aku sudah memaafkanmu. Kita ini teman, tidak baik jika saling bermusuhan,” Aska menjelaskan dengan bahasa isyaratnya. Rio memperhatikan gerakan tangan Aska lalu ia menatap Arsa, seolah bertanya apa yang baru saja Aska sampaikan. Arsa pun tersenyum tipis, kemudian menyampaikan ucapan Aska, “Aska bilang, dia sudah memaafkanmu. Lagipula kita teman, tidak baik jika kita bermusuhan. Aku juga sudah memaafkanmu, Rio.” Setelah mendengar itu, Rio tersenyum tulus, “Terima kasih ya, kalian teman yang sangat baik.”
