Titik Balik

Seandainya Kak Ava tidak ada di rumah kemarin, aku tidak perlu membuka pintu depan untuk menemui Hanan. Sayangnya, kemarin Kak Ava di rumah. Dia melotot jengkel ke arahku saat aku mengabaikan ucapan salam yang diikuti panggilan namaku. Mau tidak mau, aku menyeret kakiku ke pintu depan. Begitu aku membuka pintu, aku disambut senyum menyebalkan yang khas dari si pendek Hanan. Wajah bulatnya terbingkai rambut keritingnya. Aku balas dengan senyum malas.

Hanan memberitahuku satu dua hal. Entahlah, aku lebih banyak tidak mendengarkan. Aku hanya mengiyakan semuanya. Begitu dia selesai, dia langsung pamit pergi. Aku juga segera menutup pintu dan kembali ke dapur. Kak Ava mengangkat kepalanya dari ponsel di tangannya. Dia masih duduk di tempat yang sama seperti sebelum aku pergi.

“Hanan?” dia bertanya. Aku balas dengan anggukan. Hanan memang sering mampir ke rumahku akhir-akhir ini. Sampai-sampai Kak Ava bisa menebak begitu.

“Kenapa tidak diajak masuk dulu?” Kak Ava mengernyit.

“Dia buru-buru. Mau jemput apalah itu katanya tadi.”

“Untuk yang acara angkatan itu?”

“Ya.”

Kak Ava tidak membalas. Dia tahu aku malas membicarakan tentang acara itu. Sebenarnya, aku memegang posisi kepala divisi dekorasi. Hanan sendiri adalah bagian sekretaris. Namun entah kenapa, Hanan selalu ikut campur. Aku jadi jengkel melihatnya. Apa jabatan sekretaris kekurangan pekerjaan sampai-sampai dia mencari pekerjaan tambahan untuk dirinya sendiri?

“Hanan orangnya bertanggung jawab, ya.” celetuk Kak Ava tiba-tiba. Aku segera balas berseru kesal.

“Apanya?! Dia itu suka ikut campur! Merasa paling serba bisa!”

Namun, Kak Ava justru tertawa mendengar responku. Dia membalas, “Arka… Arka… Kakak ini lebih pandai menilai orang daripada kamu. Kamu itu kekanak-kanakan.”

“Mana mungkin?! Kakak ‘kan memang sukanya mendukung orang lain! Mana pernah Kakak mendukungku?!”

“Nah, ini buktinya.” Kak Ava beranjak dari tempat duduknya. “Kakak beri tahu juga kamu tidak akan mau mendengar. Jadi percuma saja, ‘kan? Lebih baik Kakak tidur.”

Kak Ava tidak merasa perlu mendengarkan seruan marahku selanjutnya. Dia langsung pergi ke kamarnya. Padahal ini masih pukul lima sore. Siapa orang yang tidur saat matahari bahkan belum tenggelam? Aku tahu dia malas berbicara denganku. Semakin kupikirkan, aku jadi semakin kesal.

Karena tidak ada lagi orang untuk kuajak bicara di dapur, aku jadi ikut masuk ke kamar. Mungkin baca komik? Atau main game online? Ah, apa saja. Asalkan aku bisa lepas dari percakapan barusan. Namun, sialnya, aku justru teringat ekspresi wajah tidak percaya Kak Ava saat aku mengumumkan di depannya, juga di depan Ayah dan Ibu, bahwa aku mengajukan diri menjadi ketua divisi dekorasi untuk acara angkatan. Dia pikir aku bercanda waktu itu. Benar-benar keterlaluan. Kak Ava tidak bisa bersikap suportif pada adiknya sendiri. Malah dia terlihat kagum saat aku beritahu bahwa Hanan menjadi sekretaris di acara ini.

Sudahlah, aku harus fokus ke game yang akan aku mainkan sekarang.

Keesokan paginya, aku berangkat sekolah seperti biasanya. Duduk di kursiku. Kemudian, karena tidak ada yang akan aku kerjakan, aku mengeluarkan ponsel untuk sekadar menyelami timeline media sosial. Saat itulah seorang anak perempuan, Sela, datang ke arahku. Dia terlihat agak kesal.

“Arka! Astaga, kenapa kamu ada disini?!”

Aku mengernyit ke arahnya, “Ini kelasku.”

“Bukan itu maksudku. Ya ampun, kita ‘kan sudah sepakat mau mengadakan kumpul divisi. Ada yang harus direvisi… Oh, iya! Yang ada di daftar kemarin, kamu tidak lupa bawa, ‘kan?”

Aku mengangguk ragu. Tidak terlalu yakin daftar mana yang sedang dibicarakan Sela. Namun, Sela juga langsung berbalik badan. Dia mengisyaratkan agar aku mengikutinya. Maka aku segera mengikutinya. Kemudian kami sampai di tempat taman belakang sekolah. Semua anggota divisiku sudah berkumpul disana. Anehnya, ada Hanan juga. Dia melempar senyum menyebalkannya ke arahku.

Begitulah. Begitu aku dan Sela sampai, kami memulai rapat informal ini. Hanan lagi-lagi memimpin. Mengingatkan tentang ini dan itu. Juga mendiskusikan hal yang harus diubah. Aku diam saja. Tidak banyak meninggalkan komentar.

Saat pertemuan itu ditutup, Sela kembali menghampiriku sambil tersenyum tipis.

“Arka, yang ada di daftar kemarin, kamu bawa? Dimana?”

Aku ragu-ragu menjawab, “Eh, yang mana?”

“Itu yang dibawakan Hanan. Bukannya seharusnya kamu yang memastikan barang-barang itu?”

“Ah!” Aku mengalihkan pandangan sekilas ke tumpukan barang dan dokumen yang ada di seberang meja. Apa seharusnya aku yang mengurus itu? “Benar, tetapi entah mengapa dia selalu mengambil alih semua tugasku.”

“Mengambil alih tugas?” Sela mengerutkan kening. “Menurutmu kenapa dia mengambil alih tugasmu?”, sambungnya.

“Kenapa lagi? Dia ‘kan memang ingin dapat sorotan.”

Sela terdiam. Dia menghela napas pelan, ekspresinya jengkel. “Tidak ada yang akan mengambil alih tugasmu seandainya kamu bertanggung jawab, Arka. Tapi kamu lebih suka lepas tangan, melewati deadline yang sudah ditetapkan, dan kadang mengubah ketentuan sesukamu. Hanan diminta oleh ketua pelaksana secara pribadi agar dia membantu mengawasi divisi dekorasi karena sikapmu itu. Kamu pikir dia tidak punya urusan lain?”

Aku spontan menggeleng. Yang benar saja?! Aku hanya mengusahakan yang terbaik untuk divisiku. Aku hendak protes. Namun, Sela berbicara lebih dulu, “Coba aku tanya lagi. Yang di daftar kemarin, kenapa tidak kamu bawa, Arka?”

Aku tidak jadi bicara. Justru menggaruk tengkukku dengan canggung.

“Hanan tahu kamu tidak akan bawa. Sudah berulang kali terjadi. Jadilah dia yang membawanya. Dia merasa bertanggung jawab karena sudah dimintai tolong untuk membantu kita. Juga karena ini adalah acara kita satu angkatan. Kalau divisi ini bermasalah, persiapan yang lain juga akan ikut terganggu.”

Sela beranjak dari tempat duduknya. Dia berkata akan mengerjakan beberapa hal sebelum kelas dimulai. Sementara aku terdiam. Agak malu rasanya mendengar apa yang Sela katakan. Ah, apa aku memang seperti itu dari sudut pandang orang lain?

Aku menoleh ke arah Hanan yang berdiri tidak jauh dari tempatku duduk, dia sedang berbicara dengan beberapa orang. Mungkin karena merasa diperhatikan, dia menoleh ke arahku dan tersenyum. Entah mengapa, senyumnya tidak terasa menyebalkan. Atau mungkin sebenarnya memang selalu seperti itu?

Leave a Reply