Luka Desember di Bandung

Hujan turun lagi, seperti biasa, bikin kota Bandung makin dingin dan sedikit suram. Anin duduk di salah satu sudut cafe kecil di Jalan Braga. Gelas latte di depannya sudah setengah habis, tapi pandangannya kosong, menerawang ke luar jendela. Hujan deras membasahi jalanan yang penuh dengan payung warna-warni, tapi hati Anin terasa jauh lebih basah dan berat.

“Kenapa sih gue selalu begini? Kayak ga ada yang bener-bener mau stay,” gumamnya pelan sambil muter-muter sendok di gelas.

Anin adalah tipe orang yang gampang jatuh hati, tapi sayangnya, jatuhnya selalu ke lubang yang salah. Orang-orang yang dia suka, datang dengan penuh janji lalu pergi tanpa pamit. Ghosting udah jadi cerita biasa buat dia. Mulai dari chat yang ga pernah dibalas, janji ketemuan yang ga pernah kejadian, sampai tiba-tiba orangnya nge-post bareng pacar baru. Dan itu selalu kejadian di penghujung tahun, bikin Desember terasa seperti luka lama yang terus digaruk sampai perih.

“Lagi mikir apa, Nin?” Suara Asta, sahabatnya, membuyarkan lamunannya. Laki-laki itu duduk di depan Anin, langsung ngambil roti yang ada di meja tanpa permisi.

“Kayak biasa, Ta. Gue ngerasa kayak ga pernah cukup buat siapa pun. Setiap ngeliat orang-orang yang lucky being spoiled atau disayang sama pacarnya atau dimanjain, tuh selalu mikir kayak emang gue se-worthless itu ya? knp no body love me that way? salah apa ya? selalu begitu” jawab Anin sambil menarik napas panjang, mencoba menahan emosinya yang hampir tumpah.

Asta ngangguk pelan, tatapannya penuh pengertian. Dia udah sering denger cerita Anin soal ini. “Lo tau ngga, Nin, masalahnya bukan di lo. Tapi di orang-orang yang ga bisa liat lo apa adanya.”

Anin ketawa kecil, tapi suaranya hambar. “Masa sih? Kalau gue emang cukup, kenapa mereka ga pernah stay?”

“Karena lo terlalu banyak ngasih buat orang yang ga pantes,” kata Asta sambil nyender di kursi. “Lo terlalu sering mikir gimana caranya bikin orang lain bahagia, tapi lupa sama diri lo sendiri.”

Anin diem. Kata-kata Asta nyentil, tapi dia ga bisa ngelak. Dia inget gimana dia selalu jadi yang paling effort di setiap hubungan. Mulai dari ngajak chat duluan, nyari topik obrolan, sampai ngingetin hal-hal kecil kayak ulang tahun atau jadwal penting. Tapi ujungnya? Orang-orang itu tetap pergi, meninggalkan dia dengan pertanyaan yang sama: “Apa salah gue?”

“Terus gue harus gimana, Ta? Gue ga mau jadi orang yang cuek atau ga peduli. Not my style” tanya Anin dengan nada frustrasi.

Asta tersenyum kecil. “Lo ga harus berubah jadi orang lain. Lo cuma perlu ngasih waktu buat diri lo sendiri. Jangan buru-buru nyari orang baru kalau lo belum selesai sama rasa kecewa lo yang lama.”

Hari itu, obrolan mereka selesai tanpa solusi instan. Tapi malamnya, Anin memutuskan untuk keluar jalan-jalan sendiri. Dia berjalan tanpa tujuan di sekitar Cihampelas, menikmati lampu-lampu kota yang berkilauan di bawah gerimis. Ada sesuatu yang menenangkan dalam kebersamaan dengan orang-orang asing yang sibuk dengan dunianya sendiri. Rasanya seperti dia bisa menghilang sejenak tanpa ada yang peduli.

Ketika malam tahun baru tiba, Anin duduk sendiri di balkon kamarnya. Langit Bandung penuh dengan kembang api, suara gemuruhnya bercampur dengan desir angin dingin yang menampar pipinya. Di tangannya, ada secangkir cokelat panas yang dia buat sendiri. Tidak ada obrolan panjang, tidak ada janji-janji baru yang mungkin hanya akan jadi patah hati berikutnya.

Dia memikirkan percakapannya dengan Asta, memikirkan tahun-tahun yang sudah lewat dengan pola yang sama: jatuh cinta, beharap, ditinggalkan, ujung-ujungnya kecewa. Tapi malam ini berbeda. Tidak ada orang lain yang dia tunggu, tidak ada pesan yang dia periksa setiap lima menit. Hanya dirinya sendiri dan kota yang terus bergerak meski hatinya pernah terhenti.

Anin menarik napas dalam-dalam. “Mungkin emang ga semua orang harus tinggal. Kadang, yang pergi itu ngajarin gue buat lebih sayang sama diri sendiri,” bisiknya ke udara malam.

Langit malam itu berkilauan, bukan hanya karena kembang api, tapi juga karena Anin akhirnya menyadari sesuatu. Dia mungkin belum sepenuhnya sembuh, tapi dia tahu, luka-lukanya adalah bagian dari cerita yang menjadikannya lebih kuat. Tahun ini, dia memilih untuk berhenti mencari cinta di tempat yang salah. Dia memilih untuk menjadi rumah bagi dirinya sendiri. Bandung di penghujung Desember itu dingin, tapi untuk pertama kalinya, hati Anin terasa lebih hangat.

Leave a Reply