Pohon yang Merindukan Taman

Oleh Adam Baihaqi

Alkisah di tengah-tengah taman yang indah, tumbuhlah sebatang pohon yang istimewa. Pohon ini tak seperti pohon lainnya. Cabang-cabangnya diberkahi dengan daun hijau yang lebat, bunga-bunga warna-warni yang cantik dan harum, serta buah-buahan yang begitu manis hingga membuat siapa pun ingin mencicipinya. Pohon ini sungguh bahagia, karena tak hanya berada di taman yang indah, tapi juga memiliki banyak teman setia.

Di setiap cabangnya, burung-burung kecil bersenandung dengan suara merdu, menciptakan melodi alam yang menyenangkan hati. Kupu-kupu bermain-main di antara kelopak bunga, menambahkan sentuhan keajaiban pada taman yang dipenuhi kegembiraan. Tapi yang paling disukai oleh pohon itu adalah suara riang anak-anak yang berlarian di bawahnya, bersama keluarga-keluarga yang santai berpiknik di sekelilingnya. Pohon itu merasa bahwa ia adalah pohon paling beruntung di dunia.

Namun, suatu hari, kebahagiaan itu terancam. Kabar datang bahwa taman yang indah ini akan dirobohkan untuk memberi tempat pada pembangunan gedung bertingkat. Para pekerja datang dengan mesin-mesin besar yang bersuara nyaring dan gergaji yang mengaum. Mereka mulai menebang pohon-pohon di sana, satu per satu. Pohon itu merasa ketakutan dan sangat sedih melihat teman-temannya yang jatuh berguguran. Dalam kesedihannya, pohon itu berharap dan berdoa semoga ia bisa tetap tinggal di taman yang telah menjadi rumahnya.

Namun, nasib berkata lain. Ternyata, pohon itu dipilih untuk dipindahkan ke tempat baru. Para pekerja dengan hati-hati mempersiapkannya. Mereka mulai menggali akarnya dengan lembut dan menyusunnya dengan penuh kehati-hatian ke dalam truk besar. Pohon itu merasa bingung, sebab ini adalah pertama kalinya ia harus berpindah tempat. Ia menatap sekelilingnya dengan mata yang penuh pertanyaan, tidak tahu kemana ia akan dibawa. Hanya bisa menatap rumah lamanya yang telah hancur dengan sedih, mata berkaca-kaca.

Setelah perjalanan yang panjang di atas truk, pohon itu akhirnya merasa truk melambat, dan kemudian berhenti di sebuah tempat yang benar-benar baru dan asing baginya. Pohon itu dikeluarkan dengan lembut dari truk dan ditanam pada tempat itu. Dan di sana, di depan matanya, terbentang sebuah komplek perumahan yang luas dan sunyi. Di sekelilingnya, tidak terlihat satu pohon pun. Hanya ia sendiri, berdiri di tengah halaman yang luas dan terbuka. Pohon itu merasa kesepian dan terasingkan, karena ia amat merindukan keramaian taman yang pernah ia panggil sebagai rumah.

Hari-hari berlalu, dan pohon itu mencoba sekuat tenaga untuk bertahan hidup di tempat yang baru ini. Ia berusaha keras untuk tetap tumbuh dan berbunga, meskipun tidak ada satupun yang memperhatikannya. Ia berharap agar ada burung-burung yang melintas, kupu-kupu yang datang bermain, atau bahkan anak-anak yang bersorak-sorak menghampirinya. Namun, entah mengapa, tidak ada yang datang. Pohon itu mulai merasa bosan dan putus asa.

Setiap hari, pohon itu menyaksikan langit yang biru, berharap akan ada jejak-jejak kehidupan yang menyapa. Ia merindukan suara gemerisik daun di taman, tawa ceria anak-anak, dan kicauan burung yang dulu menjadi teman setianya. Namun, sekarang ia hanya dapat mendengar suara angin sepoi-sepoi yang melintas di halaman yang sunyi.

Suatu pagi yang cerah, pohon itu terbangun dari suara bising yang datang dari arah jalan. Mata daun-daunnya yang hijau terbuka lebar saat ia melihat sebuah mobil berhenti di depan salah satu rumah. Dari mobil itu turunlah seorang pria, seorang wanita, dan seorang anak laki-laki yang tampaknya berusia sekitar 10 tahun. Mereka terlihat begitu ceria dan penuh semangat. Pohon itu dengan cepat menyadari bahwa mereka adalah keluarga yang baru saja pindah ke rumah itu.

Dengan rasa penasaran yang memuncak, pohon itu berharap agar keluarga baru ini mau berteman dengannya. Ia mencoba menarik perhatian mereka dengan menggerak-gerakkan daun-daunnya, memancarkan kecantikan bunga-bunganya, dan bahkan menjatuhkan beberapa buah manisnya. Namun, sayangnya mereka tidak seperti memperhatikannya. Mereka sibuk dengan membongkar barang-barang dari dalam mobil, tertawa ceria satu sama lain. Lalu, tanpa menoleh ke arah pohon, mereka masuk ke dalam rumah baru mereka. Pohon itu merasa kecewa dan sedih, seolah-olah tidak ada yang memperhatikan keindahannya.

Keesokan harinya, pohon itu kembali mendengar suara bising dari arah jalan. Kali ini, ia melihat sebuah truk besar yang berhenti di depan halaman rumah. Dari dalam truk itu, turunlah pria yang sama seperti hari sebelumnya, membawa gergaji mesin yang besar. Wajah pria itu terlihat serius, dan pohon merasakan kegelisahan menyelinap di dalam dirinya. Ia bertanya-tanya apa yang akan terjadi pada dirinya.

Pria itu mendekati pohon sambil membawa sebuah gergaji mesin yang begitu besar dan tampak seperti monster besi yang menakutkan. Pohon itu merasa kecil dihadapan gergaji mesin itu, dan rasa ketakutan mulai menyelinap perlahan ke dalam hatinya. Daun-daunnya yang hijau menjadi gemetar, dan batangnya yang kokoh seakan-akan merasakan getaran ketegangan di udara.

Pohon itu merasa ketakutan dan curiga, seolah-olah ada sesuatu yang tidak beres. Ia mencoba memahami dengan mata lebar terbuka, berharap dapat menemukan jawaban atas kehadiran pria itu dengan gergaji mesinnya Tetapi, sebelum pohon itu bisa memahami lebih lanjut, pria itu menyalakan gergaji mesinnya. Rasa takut sepenuhnya mengisi hati pohon itu ketika menyadari bahwa pria itu berniat untuk menebangnya.

Dengan setiap gerakan gergaji mesin yang semakin mendekat, pohon itu merasa seperti sedang menghadapi badai besar yang mengancam. Daun-daunnya seolah-olah menyusun strategi untuk melawan, sementara ranting-rantingnya tampak bergetar akibat suara gergaji mesin yang semakin dekat. Pohon itu seakan-akan mencoba berbicara dengan alam sekitarnya, memanggil angin untuk membantunya atau tanah untuk menyelamatkannya dari bahaya yang mengancam.

Namun, sebelum gergaji mesin itu bisa menyentuh batang pohon itu, pohon itu melihat sesuatu yang mengejutkan. Seorang anak laki-laki yang tampak marah dan sedih keluar dari pintu rumah. Anak laki-laki itu adalah anak dari keluarga baru yang baru saja pindah. Ia berlari ke arah pohon dengan tatapan mata yang penuh keberanian. Dengan suara yang lantang, ia berteriak kepada ayahnya yang memegang gergaji mesin, “Ayah, jangan tebang pohon itu! Aku suka pohon itu. Aku ingin bermain dengan pohon itu. Aku ingin berteman dengan pohon itu. Aku sayang pohon itu.”

Pria itu, yang ternyata adalah ayah dari anak laki-laki merasa terkejut dan bingung. Ia menatap anaknya dengan heran, tidak tahu bahwa anaknya begitu mencintai pohon itu. Ia tidak menyadari bahwa pohon itu memiliki arti yang begitu besar bagi anaknya.

Anak laki-laki itu kemudian mulai menjelaskan bahwa ia ingin berteman dengan pohon itu hari ini, tapi menjadi sangat marah ketika melihat ayahnya tiba-tiba ingin menebangnya. Dengan lembut, pria itu mencoba menjelaskan, “Ayah minta maaf, nak. Ayah tidak tahu. Ayah hanya ingin membuat halaman rumah kita lebih luas dan rapi. Ayah tidak bermaksud menyakiti kamu dan pohon itu.”

Anak laki-laki itu mulai menangis, dan dengan langkah terguncang, ia mendekati pohon itu. Ia memeluk batang pohon itu dengan erat dan dengan penuh kasih sayang. Dengan suara lirih, ia berkata kepada pohon, “Aku minta maaf, Pohon. Aku hampir kehilangan kamu. Aku ingin bermain dengan kamu. Aku ingin berteman dengan kamu. Aku sayang kamu.”

Pohon itu meresapi kata-kata penuh kelembutan dari anak laki-laki itu, dan seperti alunan lagu kebahagiaan, daun-daunnya bergoyang-goyang dalam irama keceriaan. Pohon itu merasakan kehangatan dari pelukan si anak, meresapi kebahagiaan yang melekat pada setiap kata yang diucapkan.

Dengan penuh rasa syukur, pohon itu tersenyum lebar dan mengucapkan terima kasih pada anak laki-laki itu. Dengan bahasa hati yang hanya dimengerti oleh mereka berdua, pohon itu berkata, “Aku senang kamu ada di sini,” sambil meresapi kehadiran anak laki-laki itu dengan kebahagiaan yang tak terhingga. Dengan penuh cinta, pohon itu mengucapkan, “Aku sayang kamu.”

Pohon itu, yang sebelumnya terancam oleh gergaji mesin, kini selamat berkat tindakan pemberani anak laki-laki itu. Ia selamat karena kasih sayang yang begitu tulus dari anak tersebut. Dengan bahagia dan bersyukur, pohon itu kini menjadi saksi hidup dari kekuatan cinta seorang anak terhadap alam. Sejak hari itu, pohon itu menjadi teman baik anak laki-laki itu, dan mereka sering bermain bersama di halaman itu.

Pohon itu juga menjadi teman baik keluarga baru itu. Pria yang sebelumnya membawa gergaji mesin sekarang mengurungkan niatnya untuk menebang pohon itu. Sebaliknya, ia menjadikan pohon sebagai teman setia yang akan bersama mereka selamanya. Setiap hari, pria itu dengan penuh kasih sayang menyiram pohon itu, memberinya pupuk, dan merawatnya dengan penuh perhatian.

Wanita dalam keluarga itu juga menyukai pohon itu. Setiap pagi, ia senang mengambil bunga-bunga yang bermekaran untuk dijadikan hiasan di dalam rumah. Buah-buah yang tumbuh di pohon itu menjadi pilihan camilan sehat dan lezat bagi keluarga. Wanita itu dengan senang hati membuat kue dan hidangan lezat dengan buah-buah dari pohon itu.

Pohon itu merasa bahagia dan bersyukur dengan kehidupan barunya. Ia merasa dirinya sebagai pohon yang paling beruntung di dunia ini. Di samping keluarga baru yang penuh cinta, pohon itu merasa dihargai dan dijaga dengan baik. Ia tumbuh subur dan cantik, dihiasi dengan bunga-bunga yang memesona dan buah-buah yang menawan. Ia merasa bahwa ia telah menemukan taman baru yang mengagumkannya.