SESAL

Oleh Darin Kamiliya Febianti

Di suatu sekolah yang bertempat di tengah kota terdapat lima orang sahabat perempuan bernama Anesha, Tsana, Hujan, Anindita, dan Agatha. Mereka selalu bersama dan berbagi cerita. Suatu hari, di sekolah tersebut kedatangan murid baru bernama Mahen. Awalnya Mahen masih terasa canggung berada di kelas karena belum mempunyai teman, tetapi dengan cepat salah satu dari kelima perempuan itu mengajak Mahen untuk bergabung dengan mereka “Mahen ayo gabung sama kita, ga usah malu kita bakal jadi teman baik kamu”. Mereka semua saling mendukung dan berteman baik.

Namun dalam perjalanan pertemanan mereka terkadang ada suatu momen dimana Mahen merasa diacuhkan oleh mereka dan kelima anak perempuan itu tidak pernah menyadari akan hal itu, hingga suatu hari Mahen mempunyai teman dari kelas lain, seorang laki-laki bernama Aksa. Karena merasa diacuhkan oleh kelima temannya, ia lebih sering bersama teman barunya. Suatu hari Aksa mempertanyakan hal itu “Hen, kenapa kamu sudah tidak bergabung dengan kelima temanmu?” Ketika itu Mahen langsung murung dan menjelaskan perasaan dia selama ini.

Hari demi hari salah satu dari mereka Agatha merasa aneh dengan sikap Mahen yang seolah-olah menjauh dari kelima temannya. Keesokan harinya Agatha mencoba untuk mengajak bicara Mahen mempertanyakan mengapa sikap ia berubah seolah-olah menjauh dari kelima temannya dan lebih memilih dengan teman barunya, Mahen menjelaskan bahwa ia merasa tidak dianggap dan diacuhkan oleh kelima temannya. Kelima temannya merasa heran dan tidak terima akan hal itu karena mereka merasa tidak mengacuhkan Mahen dan tetap menganggap Mahen adalah teman baik mereka, pada akhirnya terjadi kesalah pahaman diantara Mahen dan temannya.

Ketika belum sempat mereka menyelesaikan masalah pertemanan mereka, Mahen terjatuh tak sadarkan diri dan dilarikan ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit Mahen langsung dilarikan ke IGD dan kelima temannya menunggu kabar baik Mahen, namun kesehatan Mahen semakin memburuk. Hari demi hari berlalu, sampai pada akhirnya ketika pembelajaran sedang berlangsung, guru mengabarkan bahwa Mahen meninggalkan dunia ini.

Anesha, Tsana, Hujan, Anindita dan Agatha merasa tidak percaya dan menyesal karena sudah membuat Mahen merasa sendiri ketika berteman dengan mereka. Kematian Mahen meninggalkan duka yang mendalam di hati kelima sahabat perempuan itu dan tentu saja Aksa pun merasakan apa yang dirasakan kelima sahabat itu. Meskipun kehilangan itu merupakan hal yang sangat berat, tapi mereka belajar bahwa persahabatan sejati dapat melewati segala cobaan. Meskipun Mahen telah pergi, kenangan indah bersama tetap menjadi bagian dari mereka.

Dalam mengenang Mahen, mereka bersumpah untuk terus menjalani hidup dengan semangat, menghargai setiap momen bersama memastikan setiap temannya tidak merasa sendiri, dan menjaga persahabatan yang telah mereka bangun. Meski satu teman telah pergi, ikatan batin mereka tetap kuat, menjadi pengingat bahwa persahabatan sejati akan terus hidup meski dalam kenangan.