” Pra tungguin dong, jangan cepet cepet jalannya ” ucap Kala sembari berlari mengejar seorang lelaki yang tengah berjalan mendahuluinya.
” Emang kita pernah jalan bareng? ” tanyanya singkat, kemudian meninggalkan Kala yang masih terdiam.
Sakit. Ya, itu yang Kala rasakan saat lelaki yang ia kejar justru meninggalkannya.
Niskala Adhya Putri atau biasa dipanggil Kala, seorang putri tunggal yang berasal dari keluarga serba berkecukupan juga bisa dibilang keluarga cemara. Kini dirinya merupakan seorang mahasiswa baru di salah satu kampus daerah Jakarta. Ini adalah tahun keempat ia berada di Jakarta dan sudah hampir empat tahun juga ia mulai jatuh cinta kepada seorang lelaki yang ia temui pada saat masa orientasinya di SMA. Benar, lelaki itu adalah Pra, Pradipta Narayana. Seorang lelaki yang Kala kenal semenjak SMA karena mereka berdua satu kelas, dari mulai kelas 10, 11 dan 12. Kini Kala dan Pradipta berada di kampus yang sama dan jurusan yang sama pula yaitu ilmu komunikasi. Tiga tahun satu kelas, juga masuk kampus dan jurusan yang sama bukan berarti Kala dekat dengan Pradipta. Sikap Pra yang cuek, nyebelin dan suka seenaknya membuat Pra banyak dijauhi oleh teman yang lainnya. Berbeda dengan Kala yang semakin jatuh hati pada Pra.
Hari ini, mata kuliah pengantar komunikai sudah selesai, seharusnya hari ini libur tapi karena dosennya meminta pergantian kelas jadilah ia harus masuk kuliah. Para mahasiswa pergi meninggalkan kelas. Lelah yang Kala rasakan saat ini. Namun, lelahnya seketika hilang saat melihat sang pujaan hati tengah membereskan peralatannya di meja paling belakang dan hendak berjalan keluar kelas melewati dirinya.
” Pra tunggu ” ucap Kala menahan tangan Pra.
” Apalagi sih ” jawab Pra menepis tangan Kala.
” Eh sorry sorry, diliat-liat kayaknya kamu belum makan deh dari pagi, gimana kalo sekarang kita pergi cari makan. Aku yang bayarin deh ” tawar Kala.
” Ga ” jawab Pra singkat meninggalkan Kala yang hanya seorang diri di kelas.
” Pra, woii! Pradipta Narayana! ” teriak Kala, namun sang empu tidak menjawab ataupun berhenti berjalan.
” Dari SMA sampe sekarang ga ada bedanya ” lanjutnya.
Kala pun pergi meninggalkan kelas dan berniat untuk mencari makan terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah.
Kala memarkirkan mobilnya di parkiran sebuah cafe yang tak jauh dari kampusnya. Ia masuk ke dalam cafe itu, ramai sekali orang sampai Kala kesulitan mencari kursi kosong. Di tengah dirinya yang sedang mencari tempat duduk tiba tiba ada suara yang memanggilnya.
” Niskala ” panggil seorang lelaki sambil melambaikan tangan.
” Aku? ” tanya Kala sambil menunjuk dirinya
” Iya, sini ” ucapnya lagi.
Kala pun menghampirinya.
” Kayak pernah liat deh tapi lupa dimana ” ucap Kala sambil mengingat wajah orang di depannya.
” Kayaknga bukan pernah liat, tapi sering. Kamu Niskala kan? Mahasiswa baru jurusan ilmu komunikasi kan? ” ujar lelaki itu.
” Hah? Emang iya ya? Tapi beneran ga asing sih mukanya ” Kala masih mengingat.
” Iyaaa, aku Askara Pratama anak semester tiga, satu jurusan juga lohhh” ucapnya mengulurkan tangan.
” Wahh iya kah? Maaf ya kak tadi agak ga sopan ” ucap Kala sedikit menunduk.
” Eh gapapa, panggil Aska aja umur kita ga beda jauh. Btw lagi nyari tempat duduk ya? Disini aja aku sendirian kok. Malam minggu, wajar kalo rame. ” jelasnya pada Kala.
” Jadi ga enak tau aku. “
” Udah gapapa disini aja, daripada berdiri gitu nanti kesemutan. “
” Yauda deh, makasih yaa “
Kala pun memesan makanan dan minumannya karena ia sangat lapar. Pelayanan cafe yang bagus, karena Kala tak perlu menunggu lama pesanannya sudah diantar.
” Makan kak ” tawar Kala
” Terimakasih, aku udah tadi ” jawabnya tersenyum tulus pada Kala.
Tak ada yang bersuara saat Kala sedang makan, sampai akhirnya lelaki bernama Aska itu bersuara.
” Kamu kalo lagi makan makin lucu tau. “
” Uhuk..uhuk…uhuk “
” Eh eh minum dulu minum dulu ” ucap Aska sambil menyodorkan air mineral miliknya.
Kala pun menerima dan langsung meminumnya.
” Makanya kalo makan tuh pelan pelan biar ga keselek kayak gini ” lanjut Aska sambil membersihkan bekas makanan di bibir Kala menggunakan tissue.
Kala hanya terdiam, pipinya merasakan panas. Ingin teriak, ia belum pernah seperti ini sebelumnya. Pada saat dirinya menahan malu sekaligus salting matanya tertuju pada lelaki yang sedang duduk sendiri dengan segelas kopi di depannya. Tanpa menunggu waktu lama, Kala menghampiri lelaki itu dan meninggalkan Aska.
” Emang ya kalo jodoh tuh ga kemana ” namun lelaki itu masih terdiam dalam lamunannya.
” Pra, Pradipta ” Kala bersuara lagi dan berhasil membuyarkan lamunan lelaki itu.
” Lo lagi lo lagi, bisa ga sih sehari aja gausah ganggu gue ” jawab lelaki itu ketus.
” Ngga, ga bisa. Kenapa? ” tanya Kala.
” Lo itu cmn pengganggu di hidup gue ” bentak Pra.
Kala sedikit terdiam, meskipun ini bukan yang sekali atau dua kali.
” Pra, emang ga bisa ya sekali aja kamu buka hati buat aku. Tiga tahun Pra, tiga tahun aku berusaha buat kamu bisa nerima aku, dari semua yang aku lakuin, apa ga ada sedikit pun yang bisa buat kamu bisa nerima aku? Ini juga bukan kali kesatu atau pun kedua aku nyatain perasaan aku ke kamu Pra. ” ucap Kala menahan tangis, ia tak biasa dibentak seperti ini.
” Lo ngerti bahasa manusia ga sih? Gue udah bilang kalo lo itu cuman pengganggu di hidup gue, gausah ngarep kalo gue bakalan buka hati buat lo. Lagian jadi cewe murahan banget sih, ga malu apa ngejar ngejar cowo. Asal lo tau ya Niskala Adhya Putri, dari tahun tahun lalu keberadaan lo cuman bikin gue risih. ” jelas Pra dengan nada sedikit meninggi.
Pradipta pun pergi meninggalkan Kala yang pada saat itu sudah tidak bisa menahan tangisnya. Pipinya sudah banjir oleh air mata yang dibuat oleh Pra. Di sisi lain seorang lelaki tengah menatapnya iba. Dia adalah Askara. Askara khawatir terhadap Niskala, namun ia juga tak ada keberanian untuk mendekatinya. Niskala adalah perempuan pertama yang membuat Askara jatuh cinta. Sebelumnya Askara belum pernah merasakan seperti ini. Namun, setelah dirinya melihat Niskala di kampus, ia merasakan ada rasa yang tak biasa pada Niskala. Sehari pun tak terlewatkan oleh Askara untuk mencari tahu tentang Niskala, mulai dari sosial medianya, makanan favoritnya, warna kesukaannya dan masih banyak lainnya. Pertemuan singkat tadi pun sangat berkesan bagi Askara, karena dirinya dapat berinteraksi langsung dengan Niskala.
Satu minggu sudah semenjak pertemuan Kala dan Askara di cafe waktu itu, mereka menjadi semakin dekat. Sering ke perpustakaan bareng, pulang kuliah bareng, ataupun mencari makan bareng. Apakah Askara dapat menggantikan posisi Pradipta di hati Kala? Entahlah, hanya Kala dan Tuhan yang tahu perasaannya. Hingga suatu hari ketika mereka berjalan keluar dari kampus, Askara bertanya tentang perasaan Kala.
” Kal, perasaan kamu sama Pradipta gimana? ” tanya Aska.
” Masih sama, dan akan selalu tetap begitu. Memangnya kenapa? ” jawabnya.
Wajah Askara tiba tiba saja berubah menjadi sedikit murung dan sedih mendengar jawaban Kala.
” Ya nanya aja, tapi seminggu ini kamu ga ngejar ngejar Pradipta lagi, malahan sering jalan sama aku. ” lanjutnya.
” Aku lagi cape aja Ka, ternyata maksain komunikasi sama seseorang yang ga ada perasaan lebih sama kita itu nguras energi banget ya. Perjuangan aku selama tiga tahun belum membuahkan hasil apa-apa. Tapi, cape bukan berarti berhenti kan? Aku bakal tetep berusaha biar Pradipta bisa buka hati buat aku Ka ” ujar Kala.
” Kal, kamu boleh berhenti kapan aja, kalo cape kamu boleh nyerah. Aku selalu ada buat kamu Kal, selalu. ” ucap Aska.
” Maksudnya Ka? ”
Belum selesai dengan bicaranya, ucapan Kala terpotong oleh Aska
” Kal, bohong kalo selama ini aku jalan bareng kamu aku ga ada perasaan apa-apa. i like u, i love everything about you Kal, bahkan semenjak pertama kali aku ngeliat kamu aku udah jatuh hati sama kamu Kal. Setiap hari aku selalu cari tau tentang kamu. Aku seneng kalo kita bisa deket kayak gini Kal. ” Aska mengungkapkan perasaannya pada Kala.
Dengan sedikit rasa terkejut, Kala mencoba menanggapi Aska dengan setenang mungkin.
” Aska terimakasih, kamu baik, baik banget malahan. Tapi maaf, hati aku masih buat Pradipta Ka ” jawab Kala.
“Pelan-pelan Kal, aku ga bisa maksain. Suka sama orang tuh ga melulu soal saling memiliki, egois kalo kayak gitu. Mungkin dibanding banyaknya orang yang ngedeketin atau lagi kamu deketin , aku termasuk yang biasa-biasa aja. Aku juga ga akan selalu bisa ngebantu kamu nyelesain masalah yang lagi kamu hadapi. Tapi kalo kamu butuh ditemani, aku bisa jamin kalo aku bakal selalu ada di tiap kamu minta” timpal Aska.
” Iya Ka, maaf dan terimakasih ya “
” Gapapa Kal, sekarang kita beli makan yu, laper nih ” ajak Aska meskipun hatinya seperti tertusuk, namun Aska berusaha untuk baik baik saja.
” Ayooo!! ” jawabnya.
Mereka pun pergi meninggalkan kampus untuk mencari makan.
Keesokan harinya, seperti hari-hari biasanya Kala menyiapkan bekal kesayangannya untuk Pradipta. Meskipun dari tiga tahun lalu bekal yang ia bawakan tak pernah dimakan oleh Pra, namun Kala tetap melakukan usaha kecilnya itu. Seperti dugaannya, pada saat Kala masuk kelas hanya ada Pradipta seorang diri yang tengah memainkan laptopnya.
” Selamat pagi Pra, sebagai orang yang suka lupa sarapan dan jarang makan, nih seperti biasa aku bawain kamu bekel. ” ucap Kala menyodorkan bekalnya.
Pra hanya menatapnya tanpa ingin menjawab ucapan Kala.
” Kalo diem tuh artinya iya ga sih? Jangan lupa dimakan Pra, oh atau mau aku suapin? yauda sini aaaaaaaa ” Kala hendak menyuapi Pra.
Brakkkk…
Tanpa disangka, Pradipta menepis bekal itu dengan kencang sampai berceceran ke lantai.
” Bangsat! harus pake cara apalagi gue kasih tau lo buat jauhin gue. Tolol apa gimana sih. Gue ga akan pernah mau makan makanan dari lo sedikitpun. Hidup gue bakalan tenang kalo ga ada lo di bumi ini. Kenapa gue harus ketemu sama lo sih. Seminggu kemarin gue rasa hidup gue tenang tanpa ada gangguan dari lo. Dan yang lo harus inget gue ga akan pernah suka sama lo, dasar murahan ” jelas Pra memaki Kala.
Kala yang mendengar itu sontak terdiam dan hanya bisa menangis.
” Kamu jahat Pra ” lanjut Kala sambil berlari keluar kelas dengan tangisnya.
Baru saja keluar dari pintu, Kala menabrak seorang lelaki dan lelaki itu adalah Askara.
” Loh Kal kenapa? Kok nangis ? ” tanya Aska pada Kala
Kala tak menjawab, ia langsung memeluk Aska menyalurkan tangisnya sambil sesegukan.
” Sekarang kita ke taman aja ya, nanti kamu boleh nangis sepuasnya tapi cerita sama aku ya. Kalo disini nanti banyak yang liat, dikira aku yang nangisin kamu ” lanjut Aska.
Kala pun mengangguk menyetujui.
” Kamu kenapa sampe nangis begitu? Mau cerita? ” tanya Aska.
” Rasanya ga adil membenci seseorang yang pernah sebegitunya kita sayangi. Tapi kalau ga benci, bagaimana aku bisa berhenti menyayanginya? ” ucap Kala.
” Kamu benci sama Pra? Kenapa? Bukannya kamu cinta banget sama Pra ya? ” Aska kembali bertanya.
” Aku rasa ini udah saatnya aku berhenti buat ngejar Pra. Dia emang bener bener ga menginginkan aku dan kayaknya emang ga akan deh. Tadi aja bekel yang aku bawain dilempar ke lantai ” jelas Kala.
Aska yang mendengar itu hendak berdiri, namun ditahan oleh Kala.
” Mau kemana? ” tanya Kala.
” Ke kelas kamu, ada cowo brengsek yang sekali-kali harus dikasih pelajaran ”
” Jangan Ka, aku gapapa kok. Emang salah aku juga kan ”
” Kamu yang gapapa, aku yang apa apa ”
” Udah gapapa, mending kamu disini aja temenin aku “
” Beneran? Aku ga rela kalo orang yang aku cintai dijahatin sama orang lain Kal ”
” Iya beneran. Udah disini aja yaa ” bujuk Kala pada Aska.
” Yasudah “
” Emmm…. Kamu emang masih suka sama aku? ” tanya Kala.
” Kamu pasti udah tau jawabannya Kal ” jawabnya.
” Emang kenapa sih, kok bisa suka sama aku? ” Kala bertanya lagi.
” Aku suka kamu yang berisik, kamu yang makannya lama, kamu yang nangisin Drakor, kamu yang excited waktu ada diskon 20% padahal cuma akal-akalan online shop supaya kamu beli banyak untuk dapetin gratis ongkir, kamu yang jadi pendiam saat marah, kamu yang nunjukin sisi ‘gapapa’ ke semua orang meski kamu terluka, semuanya. Semua versi dari kamu, aku suka. ” jawab Aska.
Tak bisa ditahan, senyum Kala merekah mendengar jawaban dari Aska.
” Kalo aku pengen lupain Pra, kamu mau bantu aku? ” pinta Kala
” Dengan senang hati ” balasnya.
Hari demi hari berlalu, Aska dan Kala pun semakin dekat. Banyak orang mengira jika mereka berpacaran, padahal kan tidak. Tapi doakan saja semoga secepatnya. Hari ini, pulang kuliah mereka akan mengunjungi toko buku untuk membeli beberapa perlengkapan kuliah. Dan mereka pergi mengendarai motor milik Askara.
” Kal kamu punya tempat yang pengen kamu kunjungi banget ga? ” tanya Aska sambil mengendarai.
” Adaa, Banda Neira. Pengen banget aku kesana. Lucu ga sih mengunjungi tempat favorit bersama orang favorit ” jawab Kala.
” Oh maksudnya sama aku? ” tanya Aska lagi.
” Ih kepedean ” pungkas Kala.
” Hahaha tapi semoga aja sih Kal ” kata Aska.
” Kamu sendiri, tempat mana yang ingin kamu tuju?” tanya Kala.
” Semua tempat yang semula aku kunjungi sendiri, ingin aku datangi lagi sama kamu Kal. ”
Kala terdiam menahan senyum atas jawaban yang dilontarkan Askara. Dan mereka terus melaju sampai ke toko buku tujuan mereka.
Sesampainya di toko mereka langsung mencari buku yang mereka butuhkan, ditemani lelucon receh dari Askara yang tiada hentinya membuat Niskala terus menerus tertawa.
” Kal, your smile is actually the most perfect thing in the whole world. When i see you smile, my heart skips a beat, my stomach flips, and i can’t help but stare. It is my favorite thing in the world, seeing you smile. You have no idea how adorable you are ” ucap Aska melihat Kala yang tertawa lepas saat bersamanya.
Kala pun berhenti tertawa.
” Asal kamu tau gimana beruntungnya aku semenjak ketemu kamu, dengan kamu yang sederhana, kamu selalu punya cara sendiri buat aku happy bahkan dari hal kecil yang belum pernah aku dapatkan sebelumnya. Terimakasih banyak. Dari kamu, aku ngerasa dihargai ” ucap Kala.
Mereka pun lanjut mencari buku. Dan bergegas untuk pulang.
Seperti biasa, pagi ini Kala dan Aska tengah bercanda sambil menyusuri lorong menuju kelas Kala.
” Kalo gitu aku kelas dulu ya, bekelnya jangan lupa dimakan oke. Dahhhh ” ucap Aska sambil melambaikan tangan pada Kala.
” Okayyy ” Kala membalas lambaian Aska.
Pemandangan itu pun disaksikan oleh seorang lelaki yang sudah berada di dalam kelas sendirian.
” Udah punya cowo baru aja. Ya kalo emang dasarnya murahan ga aneh sih ” ucap lelaki itu.
” Ngga kok Pra, aku sama Aska ga pacaran ” jawab Kala.
” Ya mau lo pacaran kek, mau nikah kek, terserah yang penting lo udah ga ganggu gue lagi. ” ujar Pradipta.
” Aku udah ga punya banyak energi untuk mengagumimu lagi Pra, kamu terlalu mempesona dan itu membuatku sudah cukup tau diri. Mungkin kalo situasi kita diibaratkan dengan urutan level di mie gacoan, kamu berada di level angle yang polos dan gurih, level comport zone setiap manusia, tentu saja digemari semua insan dari anak-anak sampe nenek-nenek. Dan aku, mungkin aku adalah iblis tertinggi sejagat gacoan yang bikin sakit perut tak tertahankan, merah menyala, pedes minta ampun. But someday, aku harap akan ada orang yang sepenuh hati memesanku dan menjadikanku menu favorite sepanjang masanya, terlepas dari sepedas apa aku dan semerah apa aku. Aku harap akan ada orang yang menyukaiku sesuka aku menyukai kamu. Sebelum itu, aku harap aku sudah tidak punya perasaan lagi sama kamu Pra. Semoga. ” ucap Kala.
Pra tak berkutik sedikitpun.
” Menyedihkan memang, ketika kita dipaksa untuk melupakan seseorang yang bahkan ga pernah kita miliki, tangannya belum sempat kita genggam, senyumnya yang cuma pernah kita nikmati dari jauh dan hatinya yang memang belum bisa dikatakan pernah menjadi milik kita. Ya memang benar benar belum sempat jadi apa apa. Sesuatu yang memang belum sempat dimulai tapi dipaksa untuk diakhiri, tapi walaupun belum sempat jadi apa apa setidaknya kisah itu pernah ada. Suatu saat nanti, entah sore ataupun tengah malam, setelah segala aktifitasmu berakhir, kamu akan menatap langit langit kamar. Lalu mulai sadar bahwa kamu kehilangan bagian kecil. Percayalah, satu bagian kecil yang hilang itu adalah aku. ” lanjut Kala panjang lebar.
Mendengar ucapan Kala itu, Pradipta hanya terdiam. Entah kenapa Pradipta seperti tidak rela jika Kala bersama dengan orang lain atau sekedar berhenti mengejarnya. Apa ini hanya perasaan Pra saja? Atau memang Pra yang benar benar takut kehilangan Niskala?
Kala pun duduk ke kursinya. Dan mulai berkutat dengan laptopnya tanpa menghiraukan Pra lagi.
Hari hari berlalu, sudah satu bulan semenjak Kala berbicara pada Pra pagi itu di kelas, tak ada lagi interaksi antara mereka berdua setelahnya. Resah pada Pradipta bertambah ketika melihat Askara dan Niskala semakin dekat. Kepalanya panas juga dadanya sesak menyaksikan pemandangan itu setiap harinya. Pradipta benar benar kehilangan Niskala.
Suatu hari ketika melihat Askara dan Niskala di taman, Pradipta menghampiri mereka berdua.
” Niskala, aku mau ngomong sama kamu ” ucap Pra.
” Ngapain lo, ga cukup lo nyakitin Niskala hah? Cabut lo! ” ucap Aska menanggapi Pra.
” Ka kamu apa-apaan sih, Pra cuman mau ngomong aja, gausah marah marah segala ” pungkas Kala pada Aska.
” Mau ngomong apa Pra ” ucap Kala pada Pra.
” Kala semenjak terakhir kita ngobrol waktu itu, aku ngerasa kehilangan kamu Kal, hidup aku jadi sepi. Aku kangen kamu yang cerewet, aku kangen kamu bawain bekel buat aku, aku pengen kamu gangguin aku lagi Kal. Kamu bener Kal aku kehilangan bagian kecil dari hidup aku dan itu adalah kamu Kal. Aku sadar waktu kamu jalan bareng dia dan aku negur kamu sebagai cewe murahan itu bukan karena aku benci, itu karena aku cemburu Kal, aku ga bisa liat kalo kamu harus seneng tapi ga bareng sama aku. Aku mohon banget sama kamu balik sama aku lagi ya? ” mohon Pra pada Kala.
Aska yang menyaksikan itu naik pitam dan menghajar Pradipta.
” Selama ini lo kemana aja brengsek, ga malu apa kalo lo itu udah nyakitin Kala berkali-kali, terus sekarang dengan mudahnya lo minta Kala buat balik lagi ” marah Aska pada Pra.
” Aska stop, ga harus sampe mukul juga kali ” bela Kala sambil membantu Pra berdiri.
” Tapi Kal, dia itu kurang ajar. Kamu ga bakal bahagia sama dia ” ucap Aska.
” Emang kalo sama kamu aku bakal bahagia, hidup sama orang yang ga aku cintai itu bakalan bahagia hah? Kita itu ga ada apa-apa Askara Pratama, jadi kamu ga usah atur atur aku ” jelas Kala tersulut emosi pada Aska.
” Pra yang kamu bilang itu beneran? Bukan prank kan? ” tanya Kala pada Pra.
” Serius, duarius malahan, aku bener bener kehilangan arah Kal, aku sadar kalo ternyata aku udah jatuh cinta sama kamu, sama perlakuan perlakuan kamu ke aku. Aku pengen kita sama sama Kal, do you wanna be mine? ” ucap Pra sambil menangkup wajah Kala.
” Pra ini beneran kan? Ga boong kan? Tiga tahun lebih Pra aku nungguin kamu bilang gini sama aku, dan hari ini kamu beneran nyatain itu Pra. Tanpa kamu tanya jawaban aku adalah iya, aku mau Pra. Ini impian aku. Perjuangan aku ga sia sia kan Pra. Yes I do ” ucap Kala sambil menangis terharu.
Bagai tersambar petir di siang bolong. Perasaan Askara hancur sehancur hancurnya mendengar jawaban Niskala. Benar benar di luar dugaannya.
” Kal kamu…… beneran? ” tanya Aska pada Kala sambil gemetar dan mata yang berkaca.
” Maaf Ka ” ucap Kala menangis sembari memeluk Aska.
” Aku kira kita bakal buat cerita baru Kal, tapi aku lupa kalo kamu punya cerita yang harus di lanjutin. Aku selalu menyukai ketika kamu berbahagia entah apapun alasannya, tapi aku lebih suka bila bahagiamu adalah aku alasannya ” ucap Aska.
Kala semakin menangis mendengar ucapan Aska.
” Maaf Ka, di hati aku masih Pradipta. Kamu belum bisa gantiin posisi dia. Perasaan kamu ke aku ga bisa ngalahin perasaan yang aku simpan tiga tahun buat Pradipta Ka, sekali lagi aku minta maaf. U can found someone better than me Ka” tangis Kala semakin kejer.
” Udah gapapa, sekarang nangis juga ga ada gunanya kan? Kita sama sama saling memaafkan aja, aku hidup di jalan aku yang ga ada kamu, kamu juga sebaliknya ” ucap Aska melepas pelukan Kala.
Kala tetap menangis, sementara Aska tetap menahan agar air matanya tidak terjatuh.
” Maaf, maaf Askara ” ujar Kala.
” It’s okey, kita cari bahagia masing masing ya ” ucap Aska meninggalkan Kala dan Pra.
” Sekarang Aska udah pergi, kita obatin luka kamu ya ” ucap Kala yang masih sesegukan pada Pra.
Pra dan Kala pun meninggalkan taman.
Seolah tahu perasaan seorang Aska pada hari itu, langit tiba tiba mendung dan hujan pun turun saat Aska memarkirkan motornya di pinggiran danau yang selalu ia kunjungi jika sedang merasa sedih.
” Harusnya aku kunjungi lagi danau ini bareng kamu Kal. God please give her happiness whenever and wherever she is ” lirihnya, tak terasa air matanya pun ikut jatuh.
Aska merasa hancur sekali, selama ini perempuan yang dicintainya ternyata tak punya perasaan terhadapnya. Apakah Aska hanya dijadikan pelampiasan? Persetan dengan hal itu, Aska tak mau ambil pusing. Dia hanya ingin setenang danau yang dilihatnya sambil merasakan hujan membasahi tubuhnya.
Dari sekian terimakasih yang ada, hadirmu adalah salah satu nya. Terimakasih untuk rasa senang dan sedihnya, akan ku tutup cerita ini sampai di sini. Selamat berbahagia, walaupun aku berusaha sendiri untuk menyembuhkan segala luka. Ingin sekali aku meneriakkan dihadapanmu bahwa perlakuanmu sungguh menyakitkan bagiku. Segalanya terasa begitu tidak adil. Dari sekian banyak manusia di alam semesta, namun kenapa kamu memilih untuk melukaiku? Aku sudah menerima pesan yang menjadi sebuah jawaban sekaligus keputusan. Ini bukan tentang apa yang aku mau, tapi ini apa yang ia inginkan dan menurutnya terbaik untuk menjadi pilihan. Mungkin aku akan rindu semua tentangmu, tapi aku yakin semesta selalu punya cara untuk jagain kamu.
Pada paragraf ini aku mengikhlaskanmu. Saat ini aku bukan hanya kecewa, namun aku benci dengan keadaan dimana sebenarnya kamu tahu bahwa aku menanggung duka lara atas perlakuanmu, namun kamu merasa dan seolah tidak melakukan apa-apa. Tapi tak apa, aku akan berusaha melupakan semuanya, menyembuhkannya, dan merelakan segenap rasa dengan cara paling dewasa. Karena Tuhan tidak ingin membiarkanku terus larut dengan perasaan yang sudah tidak dianggap lagi oleh pemiliknya. Caraku mungkin terlalu sunyi untukmu yang mungkin tidak peka terhadap suara. Tapi dengan ini, semoga kau peka terhadap bunyinya. Beberapa perasaan tidak ingin diabadikan, mereka hanya ingin dititipkan dan dilepaskan di waktu yang baik dan tidak semua perasaan harus bersama pemiliknya, kan?
Jika sepenggal kalimat ini kau baca sekilas atau tidak sama sekali, its okey. Seandainya aku punya keberanian lebih mungkin aku akan berbicara langsung di hadapanmu. Namun hanya ini keberanianku, aku hanya ingin mengeluarkan semua kata yang tak pernah berani ku ucapkan kepadamu selama ini. Perihal siapa yang yang tersakiti dan menyakiti diantara kita mungkin itu tidak penting, karena kita hanya dulu yang tak sempat menjadi kita. Kamu berhasil mengisi kekosongan yang aku rasakan, kehadiranmu begitu tepat waktu, terimakasih sudah menjadi matahari dikala gelap yang aku sendiri tidak tau kapan akan berakhir, jangan menyuruhku untuk melupakan semuanya, karena sebagaimana rasa yang tumbuh secara tiba-tiba dan tak bisa dicegah, seperti itu pula rasa itu akan menghilang. Mungkin kata “cinta” terlalu jauh untuk kita, karena sesingkat itu semesta memberi waktu untuk kita, sehingga kita sendiri tidak bisa mendefinisikan kita ini seperti apa. Jika kusebut kamu sebagai luka aku keterlaluan, karena kamu baik, selamanya akan tetap begitu, mungkin kamu akan bertanya-tanya apa yang sudah kamu lakukan untukku hingga aku sebersyukur ini bertemu denganmu, biar aku saja yang tau seberapa besar peranmu di hidupku. Terlalu banyak kata “mungkin” karena ketidakyakinan ku terhadap diri sendiri.
Sudah saatnya aku menulis kembali halaman buku yang sudah sedikit usang dan sudah lama kubiarkan kosong begitu saja, menulis lembaran baru tanpa namamu, bukan untuk menghadirkan nama baru hanya sekedar mengisi kekosongan yang selama ini menghantamnya. Namun, akan sangat menyenangkan jika aku menjadi Pradipta. Perihal semesta mengizinkan kita bersama kembali atau tidak biarlah itu menjadi rahasia tersendiri untuk semesta. So, thanks for everything and i still love you.
Askara Pratama
